Senin, 26 Maret 2012

New Day Has Come

Celine Dion - a new day has come

Powered by mp3skull.com



Lanjutan cerita dari THe Hardest day Of My life
( 6 bulan setelah pementasan Bidadari Merah ,Setelah Masumi dan Shiori berpisah )

                      Kehidupan Maya tentu saja berubah drastis ,setelah pertunjukannya sukses besar ,Maya kebanjiran tawaran apalagi setelah ia bergabung menjadi artis Daito ,di bawah bendera Daito nama Maya berkibar tidak hanya di panggung sebagai Bidadari Merah ,tapi juga di layar kaca dan film ,belum lagi semua berlomba lomba menggunakan Maya sebagai bintang iklan perusahaan Mereka.
          
                      Setelah kejadian di Studio yang hampir merengut Maya ,Masumi memberikan Maya pengamanan lebih walau ditentang oleh Maya akhirnya gadis itu tidak bisa berbuat apa apa karena Rei pun setuju. Bahkan sejak sekembalinya dari RS . Masumi menyewakan sebuah apartemen mungil untuk dirinya .Awalnya Rei tinggal bersama Maya tapi karena kesibukan di theater bawah tanah ,Rei akhirnya pindah ke apartemen lama mereka karena lebih dekat dan Rei merasa tidak enak Karena Masumi sering datang ke apartement .

                       Shiori pun sekarang bersama Tekashi . Mereka menikah setelah palu mengabulkan permohonan cerai antara dia dan Masumi . Tentu saja semua itu menjadi berita sensional karena mereka berdua hanya   menikah seumur jagung . Apalagi Shiori dan Takeshi tidak menutupi kehamilan anak mereka .  Bisa dibilang mereka berdua bahagia.

                      Sedangkan Maya dan Masumi belum mengumumkan hubungan mereka ,karena terlalu banyak rumor sejak perceraiannya ,sehingga Masumi kuatir itu akan mempengaruhi karir Maya yang mulai menanjak .

                Maya sedang dirias siang ini , ia sedang duduk diam diantara rol rambut dan pemakaian Make up di wajahnya . Ia sedang syuting iklan product kecantikan dan Maya hari ini nampak luar biasa kecantikannya . Salah satu yang membuat Maya disukai oleh staf maupun penggemarnya karena Maya tetap low profile . Bahkan tak jarang ia masih suka naik bis untuk pergi ke pusat kota sekedar cuci mata disela istirahat syuting .
                  Maya memang nampak gembira karena nanti malam ia akan melihat para sahabatnya main di panggung ,Mereka akan memainkan drama musical yang sudah dulu populer "200 pounds Beuty "
ceritanya ringan ,penuh humor tapi juga menyentuh hati . Mako asistennya masuk, ia tersenyum " wah ,Maya anda kelihatan cantik sekali . kelihatannya syuting sedikit diundur karena ada peralatan tiba tiba rusak mereka masih berusaha memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak " Mako berhenti bicara ketika sang penata make up yang telah selesai dan minta ijin ke keduanya untuk pergi keluar sebentar .

               " Jangan lupa Maya ,nanti Malam ada wawancara langsung dengan TV XXX ,jadi jangan lup ......." kata kata Mako terhenti ketika Maya terlihat kesal dan bahkan nampak marah .Selama ia bekerja Maya tidak pernah memarahinya bahkan ketika ia membuat kesalahan ,sekarang ia melihat Maya diambang Kemarahan " APA MAKSUDMU .......ADA WAWANCARA " kata Maya memandang tajam Mako , " mak ,....sudku ada ...anu .....ada wawancara... se...per...ti ...biasa " ia menundukkan wajahnya " aku sudah minta mengosongkan jadwalku sejak 3 bulan yang lalu ,aku ingin melihat kawan kawanku dipanggung, Bahkan 3 hari yang lalu itu tidak ada dijadwal ,aku tidak peduli ,batalkan "kata Maya .

              " Itu tak mungkin " kata Mako ," May...... " ia mengangkat wajahnya ,dan melihat bahwa Maya benar benar marah " Ada apa denganmu ,hampir sebulan ini cara kerjamu kacau . Beberapa kali kau hampir membuatku terlambat bahkan membuatku melewatkan jadwalku . aku tak peduli ,batalkan " kata Maya " Tapi TV xxx sangat ingin anda tampil ,Pak Shigeru memin....." tapi Maya memotongnya " Dalam 3 bulan ini aku sudah 2 kali tampil di acaranya ,Batalkan ......atau sudahlah ,Biarkan Pak Masumi saja yang membatalkan " sambil meraih Hpnya untuk menghubungi pria tersebut .

                " Ja .....jangan " kata Mako " Biar aku yang membatalkannnya"kata Mako hampir berbisik . Kemudian tanpa suara ia keluar dari kamar rias tersebut . Maya mencari sebuah nama di hpnya dan menelponnya " Pak Hijiri ......Bolehkah aku minta Tolong " Kata Maya ,terdengar persetujuan dari seberang telpon " Bisakah anda menyelidiki Mako Iwasaki " tanya Maya . Terdengar Hijiri menanyakan sesuatu " Karena ia bertingkah aneh sebulan ini ,semenjak ......." Maya memikiirkan sesuatu dan terkesiap dan " semenjak aku menolak permintaan dari perusahaan Sakura int  ,Mereka menawarkan aku kontrak yang lebih besar dari Daito,dan pindah dari Daito ,aku menolaknya mentah mentah " Sekali lagi terdengar suara diseberang telpon " Terimakasih .Pak Hijiri ,Maaf merepotkan " Kata Maya sebelum menutup telepon .

The Hardest day of My live 2

The Hardest Day Ch. 2
(By Dina I  ♥ Topeng Kaca)








Found at Beemp3.com




Masumi yang menyadari Hijiri yang bergerak cepat, menarik perhatiannya. Diarahkannya pandangan ke arah Hijiri melihat. Masumi terkejut dan dengan spontan Masumi bergerak ke arah panggung sambil memanggil Maya “MAYA ….AWAS.....!!!”

Maya dan Ayumi yang berdiri di atas panggung menoleh ke arah Masumi yang menerjang dan mendorong keduanya ke lantai.

PRAAANGK!!!’

Suara keras jatuh tepat di belakang mereka. Lampu panggung yang biasanya menggantung di atas jatuh. Kepanikan luar biasa terjadi di sekitar mereka. Koji, Mr. Hammil dan Pak Kuronuma yang berdiri di samping panggung langsung lari menuju ke tempat kejadian.

Masumi sudah bangun dan sibuk memeriksa Maya. “Mungil... kamu tidak apa-apa?“ tanyanya, sambil memegang kedua lengan Maya yang masih shock. Maya hanya mengangguk dan berkata, “aku… tidak  apa-apa. Ah, Ayumi…!“ Maya menoleh ke arah Ayumi.

Tampak Hammil membantu Ayumi bangun. Ayumi nampak kesakitan sambil memegang kepalanya.

“Ahh kepalaku sakit sekali…“ Bu Utako yang baru saja datang tampak khawatir, sedangkan Koji segera berteriak, “Panggil Ambulance...! CEPAT!!!“

 Semua tampak kacau, tapi di kursi penonton ada satu orang yang tidak bergerak memandang Masumi yang membantu Maya bangun. Wajah Masumi masih diliputi rasa khawatir. Tak sedetik pun Masumi melepas pandangan dari Maya. Shiori nampak pucat   karena melihat Masumi menolong Maya. Merasa kesal, Shiori keluar dari gedung tanpa menunggu Masumi.

Maya dan Ayumi dibawa ke rumah sakit disusul dengan Bu Mayuko. Mungkin karena terkejut membuat kesehatan jantungnya memburuk. Rei nampak hilir mudik di lorong rumah sakit. Dokter yang memeriksa Maya keluar.

“Dokter bagaimana teman saya?” tanya Rei. Dokter tersebut tersenyum, “teman anda tidak apa-apa, hanya gegar otak ringan dan sedikit shock. Besok teman Anda sudah boleh pulang.“

Rei mengucapkan terimakasih. Ia membuka pintu dan melihat Maya tertidur “Rei.....” panggil Mina setengah berlari ke arah Rei, “Bu Mayuko akan pulang sekarang.“

Rei terkejut, “memangnya tidak apa-apa Bu Mayuko pulang sekarang?”

Mina menggeleng, “beliau memaksa pulang Rei, ayo bujuklah Bu Mayuko.“

Rei melihat Maya yang masih tidur. Ditutupnya kembali pintu kamar dan pergi ke kamar Bu Mayuko bersama Mina.

Masumi melihat Rei dan Mina pergi dengan tergesa-gesa. Ia masuk ke dalam kamar Maya. Maya nampak tidur, entah kenapa hati Masumi lega. Masumi mendekati Maya,

Mungil… bagaimana ini… aku semakin tidak bisa melepaskanmu.  Katanya dalam hati.

Diraihnya tangan Maya dan diciuminya. Rupanya ketegangan tadi membuat Maya terlelap. Tak tahan, Masumi mendekatkan bibirnya ke bibir Maya (biasa pencuri ciuman) dan mencium Maya. Dilihatnya Maya bergerak dalam tidurnya, “Masumi“ igau Maya. Mendengar namanya disebut, Masumi tersenyum. Saat itulah Ia melihat Maya menggunakan kalung pemberiannya. Ia memuaskan dirinya memandangi Maya yang sedang pulas. Diciumnya kepala Maya sebelum beranjak keluar dari kamar Maya.

Belum lama Masumi keluar, Maya terbangun.

“Rei... Ia memanggil.“ Ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa Ia sendirian. Tiba-tiba Maya menyentuh bibirnya dan pipinya merona, “…bagaimana mungkin Aku bisa bermimpi dicium Pak Masumi,”  semakin teringat mimpinya, pipi Maya semakin merah. Tepat ketika Rei dan seorang perawat masuk ,melihat pipi Maya yang merah si perawat terkejut, “wah kelihatannya Nona Kitajima demam,” perawat itu langsung sibuk memeriksa Maya, membuat penjelasan Maya yang terbata-bata tak digubrisnya.

Masumi keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir. Ia melihat Hijiri menunggunya. Begitu Masumi mendekat, Hijiri memberi laporan bahwa orang yang melakukan sudah ditangkap dan diperiksa polisi dan saat ini dia masih berusaha mencari otak dari kejadian ini. Masumi kemudian memerintahkan Hijiri untuk terus menyelidiki dan melindungi Maya .

Masumi memasuki rumah tempat tinggal barunya. Ia memasuki ruang tamu. Dillihatnya Shiori di sana menelpon seseorang.

“Jadi kamu akan kembali ke Jepang, Midori? baik… jangan khawatir Midori aku akan menjemputmu, oke, sayonara.” kata Shiori tersenyum. Tapi begitu melihat Masumi, senyum itu menghilang. Jelas sekali bahwa Shiori sedang jengkel. Tapi Masumi malah tidak acuh dan pergi ke ruang kerja mengambil beberapa dokumen yang tertinggal dan secepat kedatangannya, Ia segera kembali ke kantor tanpa menghiraukan Shiori.

******************************

Shiori melihat orang lalu lalang di bandara. Sebenarnya Ia kurang suka keramaian tapi bagaimana juga Ia sudah berjanji. Midori adalah sahabatnya. Beberapa tahun yang lalu Midori menikah dan ikut suaminya yang bekerja sebagai atase di Jakarta.

”Midori…” panggil Shiori melihat sahabatnya yang langsung merangkulnya begitu mendekat. “O kaeri nasai,*” kata Shiori menyambut sahabatnya.

(*Selamat datang)

Mereka mengenang masa sekolah dulu sambil  makan di restoran favorit mereka waktu masih kuliah. Midori mengamati sahabatnya. Jelas sekali bahwa Shiori tidak bahagia.

“Shiori, bagaimana dengan suamimu? Aku dengar kamu berhasil menikahi bujangan paling diincar se-Jepang? Eh, kenapa dia tidak ikut? jangan bilang kamu takut dia akan jatuh hati padaku?“ tanya Midori beruntun yang disambut dengan senyum pilu Shiori. Kemudian tanpa diminta Shiori menceritakan segala sesuatunya, bagaimana perkawinannya semakin memburuk karena Masumi semakin tidak peduli padanya.

Midori  mendengar dengan terkejut dan bimbang antara setuju dan tidak. Semenjak dulu Ia tahu bahwa keluarga Shiori terlalu memanjakannya, jadi sikap Shiori memang sedikit sulit. Tapi Shiori sendiri begitu pandai membawa diri sehingga tak banyak yang mengetahui sifat Shiori sesungguhnya. Tapi bagaimana pun Shiori sahabatnya dan mau tak mau Midori merasa kasihan  terhadap Maya. Tiba-tiba seakan teringat sesuatu, Midori berkata, “Shiori, apakah kamu ingat... ehm… Takeshi… Amachi?“ dengan sedikit gugup Midori mengatakannya.

Cangkir Shiori berhenti sejenak mendengar Midori mengucapkan nama itu. Shiori meminum kopi itu sambil mengenang Amachi. Bagaimana pun pria itu pernah mengisi hari-hari dan hatinya. Sayang keluarga Takamiya tidak merestuinya. Amachi bukan keluarga kaya, orangtuanya hanya seorang guru dan berita terakhir yang diketahui tentang Takeshi, ia pergi ke luar negeri dan tidak ada kabar berita lagi. Semenjak itu Shiori menutup diri terhadap pria manapun. Hanya sejak berkenalan dengan Masumi Ia mulai membuka hatinya kembali. Tapi sayang semua tidak sesuai dengan harapannya.

“Ada apa dengan Amachi, Midori?“ tanya Shiori.

“Aku bertemu dia waktu aku di Jakarta, ia menjadi wakil direktur  sebuah perusahaan terbesar  di Amerika,” Midori menyebutkan sebuah perusahaan ternama yang ada di Amerika. “Dia akan kembali ke Jepang, dan memegang cabang perusahaan di Jepang. Dan aku rasa dia belum melupakanmu,“ Shiori memandang dengan wajah bertanya. “Ia masih memakai arloji pemberian kamu,” kata Midori, “dan jangan katakan bagaimana aku masih ingat hadiah itu. Kamu menyeretku untuk menemanimu memilih jam itu dari pagi sampai malam jadi walaupun arloji itu hancur jadi debu, aku tetap mengenalinya,“ kata Midori dengan sedikit jengkel mengingat masa lalu itu. Shiori tersenyum. Tak tahan, dia tertawa kecil, pertama kali semenjak dia menikah.

Takeshi memandang Tokyo dari kantornya. Hampir 6 tahun dia tidak kembali ke Jepang. Banyak yang berubah. Lalu Ia meraih sebuah koran lama. Di halaman depan ada foto Masumi dan Shiori di hari pernikahan mereka. Tiba-tiba Ia merobek koran tersebut dan mengambil foto Shiori, “tidak akan… aku akan merebutmu kembali, Shiori,” kata Takeshi sambil membelai gambar Shiori.

Maya melamun di apertemennya. Pengumuman pemeran Bidadari Merah diundur sampai Bu Mayuko membaik. Rei berada di studio bawah tanah berlatih bersama yang lain, sedangkan Maya berencana akan menjenguk Ayumi di rumah sakit, sehingga dia tidak ikut Rei. ”Aku rindu…” kata Maya setengah melamun. Ia benar-benar merindukan Masumi. Ia melihat HP-nya, ia ingin menelpon Masumi tapi entah kenapa Maya merasa malu sehingga HP itu terus dipegangnya. Tiba-tiba HP yang dipegangnya berbunyi, membuat Maya terkejut.

“AHHHH“ kata Maya dilihatnya yang menelpon Rei. Ternyata Rei hanya mengingatkan Maya untuk belanja selesai menjenguk Ayumi. Maya segera bersiap siap ke RS.

Masumi tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Ada yang menganggunya. Siapa yang menjadi otak dari kejadian di panggung belum ketahuan. Ia menggunakan uang cash untuk membayar suruhannya dan sampai sekarang Hijiri pun belum berhasil mengetahuinya. Bayangan Maya melintas di matanya, membuatnya tersenyum.

“Mungil…” Masumi mendesah dan berkata dalam hati bahwa Ia merindukan Maya.

Tok... tok…!

Terdengar suara pintu kantornya diketuk dan langsung terbuka bahkan sebelum Masumi menjawab. Muncullah Mizuki, dan bertanya, “Pak Masumi… mobil sudah siap. Bukankah Anda berencana menengok Ayumi?“ saat melihat atasannya belum siap terutama Ia juga melihat dokumen yang ditumpuknya belum juga berkurang. Masumi langsung bangkit sambil membawa beberapa dokumen, ”iya, aku berangkat sekarang.“ Masumi belum sampai pintu ketika Mizuki bertanya.“yakin Anda akan membaca dokumen itu?” yang dihadiahi tatapan tajam dari atasannya. Mizuki tidak acuh dan hanya merapikan meja Masumi. Dengan jengkel Masumi keluar dari kantornya.

Maya bersyukur Ayumi ternyata baik-baik saja. Malahan, karena benturan yang terjadi mata Ayumi malah membaik. Sekarang, walaupun belum bisa melihat dengan jelas tapi matanya sudah mulai berangsur sembuh. Ia tersenyum ketika keluar kamar tempat Ayumi dirawat. Paling tidak, ada hal yang baik. Hingga Ia melihat Masumi datang. Keduanya membeku di lorong RS, sambil memandang penuh kerinduan.

Di atap RS mereka berdiri dengan diam. Masumi pun sedikit salah tingkah. “Mungil... kamu baik-baik saja ‘kan? Maafkan aku. Sebenarnya aku ingin menghubungi kamu tapi aku…” kenyataan bahwa Ia memiliki istri membuat Masumi mengurungkan niatnya setiap kali ia ingin menghubungi Maya. Maya melihat pergulatan batin Masumi. Ia mendekat dan memegang ujung lengan jas Masumi. “Jangan khwatir, saya tidak apa-apa. Seharusnya saya yang bertanya, Anda meloncat seperti itu, tidak apa-apa kah?” tanya Maya. Masumi menggelengkan kepala, “aku baik naik  saja,“ kata Masumi (kok kayak judul lagu ya >.<). Ia terus memandang wajah Maya hingga wajah Maya merona dan menunduk. Masumi mengangkat wajah Maya dengan tangannya. Keduanya saling memandang dan Masumi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Maya. Gugup, Maya menutup matanya. Ia dapat merasakan hembusan nafas Masumi, semakin mendekat bibir Masumi ke bibir Maya ketika lagu First Love berbunyi keduanya langsung menjauh Maya menunduk dengan wajah merah, sedangkan Masumi dengan gugup menjawab telpon.

            Masumi mendesah “Maya maafkan aku, aku harus kembali ke kantor. Apa perlu aku panggilkan taxi?“ tanya Masumi. Maya menggeleng, “tidak perlu, aku harus belanja, kalau begitu aku pergi dulu,“ kata Maya, ”sayonara,” katanya pelan dan beranjak menjauh. Tiba-tiba Masumi merangkul Maya, ”sebentar saja Maya… sebentar saja aku ingin memelukmu,“ kata Masumi. Maya memutar badannya dan balas memeluk Masumi. Di atas atap RS, dunia milik mereka berdua.

            Takeshi melihat Shiori memilih sebuah gaun di butik ternama di Tokyo. Beberapa kali ia melihat jam dan pintu seakan-akan menunggu seseorang. Ia mendekati butik itu, sambil terus melihat Shiori yang sedang bercakap cakap dengan pelayan ,Takeshi membuka pintu ,Shiori yang sedang menunggu. Midori menoleh ke arah pintu dan membeku. “Takeshi…” kata Shiori dalam hati. Dilihatnya wajah Amachi banyak berubah, lebih dewasa penampilannya. Dulu Ia identik dengan jeans dan kaos, sekarang berubah menjadi jas. Ia menjadi semakin tampan di mata Shiori. Demikian pula anggapan Takeshi. Ia melihat Shiori tampak dewasa dan anggun, tidak terlihat lagi kesan remaja di wajahnya.

            Mereka duduk di sebuah cafĂ©. Takeshi terus memandang Shiori, membuat Shiori gugup. “Aku mendengar tentang pernikahanmu, selamat ya Shiori,“ kata Takeshi. Shiori tersenyum, “terima kasih, bagaimana denganmu?” Takeshi tertawa. “Sayangnya aku belum seberuntung itu.“ Kemudian Takeshi menceritakan beberapa teman mereka yang ditemui di Amerika. Tanpa mereka sadari waktu berlalu dengan cepat. Ketika sadar hari menjelang malam, buru-buru Shiori pamit untuk pulang.

“Shiori…“ panggil Takeshi, ”besok aku mengadakan pesta, besok kan hari…” belum selesai Takeshi berbicara, Shiori menimpali, ‘“ulang tahunmu.” Takeshi tersenyum hangat “terima kasih, kamu belum melupakannya.“ Ucapannya membuat pipi Shiori merona merah.

*****************************************

Suasana pesta tampak meriah, Shiori datang bersama Midori. Di sana berkumpul teman-teman lama mereka membuat suasana pesta meriah. Hingar bingar musik tidak menyurutkan keinginan mereka untuk mengobrol. Tentu saja yang menjadi pusat perhatian adalah Takeshi Amachi. Malam ini Ia nampak semakin tampan dengan tuxedo hitam yang dipakainya. Bahkan beberapa wanita dengan terang-terangan menggodanya dan hal itu membuat Shiori merasa sedih, sehingga ia melupakan semua masalah dengan meminum banyak anggur padahal Shiori tidak terbiasa minum.

Takeshi mengamati Shori yang nampak cantik malam ini. Ia mengenakan baju warna champagne dengan perhiasan emas yang tidak besar namun serasi, dan yang menarik perhatiannya adanya cincin yang melingkar di jari manis Shiori. Takeshi mendekati Shiori “Maukah kamu berdansa denganku?“ tanyanya setelah berdiri di depan Shiori. Awalnya Shiori ragu tapi Takeshi membujuknya,  ayolah hanya satu lagu, aku mohon,“ Shiori akhirnya mengangguk. Tapi pada akhirnya mereka berdansa tidak hanya satu lagu tapi sepanjang malam. Hanya sesekali berhenti untuk menikmati minuman  yang tersedia di seluruh penjuru ruangan dan Shiori terbawa suasana pesta. Sejenak ia melupakan kegalauan hatinya.

Shiori merasa pusing. Diangkatnya kepalanya ,”egggh ...aduh“ kepalanya terasa pusing, dalam hati ia bertanya mengapa badannya terasa berat dan ngilu, sampai Ia menyadari ada sebuah tangan yang memeluknya. Terkejut, Shiori bangun dan hampir saja berteriak karena di sampingnya tampak Takeshi sedang tertidur. Shiori hampir saja pingsan ketika menyadari bahwa ia tidak mengenakan pakaian sehelai pun.

Masumi keluar dari kamar tidur yang berhadapan dengan kamar Shiori. Terdengar suara mencurigakan ketika Masumi berdiri di depan kamar. Masumi mengetuk pintu dan tidak terdengar jawaban Shiori. Dibukanya pintu kamar tersebut. Kosong. Sekarang suara tersebut semakin jelas, suara HP yang bergetar. Masumi mengikuti asal suara tersebut. Dibukanya laci. Masumi menemukan sebuah telpon genggam. Ia berkerut. Shiori tidak mungkin meninggalkan HP nya apalagi sejak kedatangan Midori dan jelas ini bukan HP yang biasa dipakai Shori. HP tersebut  bergetar kembali. Dilihatnya nomor penelpon dan kembali berkerut. Rasanya nomor telpon ini dikenalinya tapi Masumi tidak dapat mengingatnya. Masumi melihat banyak sekali pesan SMS yang masuk, lebih terkejut lagi semua SMS berasal dan penelepon yang sama, penasaran, Masumi membuka salah satu SMS dan wajah Masumi langsung membeku.

Shiori terisak, dia melakukannya dengan pria lain, pria yang bukan suaminya. Shiori beringsut, Ia melihat bajunya berserakan di lantai. Tanpa disadarinya air mata menetes semakin banyak. Ia lantas mengambil bajunya dan dikenakannya. Takeshi terbangun mendengar suara Shiori menangis, ia melihat Shori merapikan bajunya. Takeshi membeku.  Samar-samar Ia teringat perbuatannya dengan Shiori. Takeshi langsung terduduk “ueghh!” kepalanya terserang rasa sakit luar biasa akibat minuman semalam. Tanpa memperdulikan Takeshi, Shiori hendak membuka pintu. Takeshi mencoba menahannya, “Shiori maafkan aku…” belum selesai berbicara, Shiori memutar badannya menghadap Takeshi.

PLAAAAK!

Shiori menampar Takeshi yang membuatnya terhuyung. Akhirnya Shiori keluar kamar dengan mudah.

“Sialan” kata Takeshi. Dengan buru-buru Ia memakai sisa pakaiannya tapi tindakannya berhenti ketika melihat noda darah di tempat tidur.

Maya, Ayumi dan pemain dari kedua kubu bersama para wartawan berkumpul di Kantor Persatuan Drama. Hari ini Bu Mayuko dan juri lainnya akan mengumumkan siapa yang berhak memerankan Bidadari merah. Maya merasa gelisah, dilihatnya sekelilingnya, tidak nampak Masumi. Membuatnya semakin tidak tenang. Tiba-tiba Ayumi menggandeng tangan Maya, kesehatan matanya semakin pulih, sebentar lagi dia akan bisa melihat dengan normal. Maya terkejut merasakan betapa dinginnya tangan Ayumi “ eh …” kata Maya, yang disambut dengan senyum Masam Ayumi “ kenapa eh… Aku hanya artis biasa, Maya “ dan Ia menghembuskan nafas, “aku juga bisa tegang“ katanya kemudian yang disambut tawa kecil Maya. Maya menggenggam erat tangan Ayumi dan mereka berdua tertawa bersama. Para wartawan yang melihat keduanya bersenda gurau langsung sibuk mengabadikan momen tersebut.

Semua bertepuk tangan saat Maya diumumkan menjadi pemeran Bidadari Merah, temasuk Ayumi yang langsung memeluknya. Pak Kuronuma menjadi sutradara Bidadari Merah dan tentu saja Koji menjadi Isshin. Maya menangis, “Ibu aku berhasil…“ katanya pelan, semua teman-temannya langsung memberi selamat, Maya memandang sekelilingnya sedikit kecewa melihat Masumi tidak datang.

Masumi menahan marah. Ternyata biang keladi dari peristiwa itu adalah Shiori, dia hampir tidak percaya bahwa Shiori mampu berbuat sejauh itu. Ia memerintahkan Hijiri untuk menyelidiki lebih lanjut, untuk sementara Masumi menahan diri.

************************************

            …...............sebulan  kemudian …........

Shiori bangun dari tidurnya, Ia merasa pusing dan lemas. Tiba-tiba ia berlari ke kamar mandi secepat kilat dan mulai muntah-muntah. Sudah tiga hari ini setiap pagi ia merasa mual, dia duduk di samping tempat tidur untuk mengambil air minum ketika tak sengaja ia melihat kalender, gelas yang di bawanya langsung jatuh dan pecah berantakan. Diraihnya kalender itu dan menghitung, “Tak mungkin “ katanya dengan wajah semakin memucat.

Shiori berjalan tanpa arah tujuan, ia telah pergi ke dokter kandungan dan memastikan ternyata dirinya benar-benar hamil. Seakan-akan dunia runtuh, ia bingung apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu bagamana menghadapi Masumi. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, dunia seakan-akan berputar dan Shori pun terjatuh.

Mizuki memasuki ruang rapat dengan tergesa-gesa.

“Pak Masumi, Nyonya Shiori masuk rumah sakit, beliau ditemukan pingsan di jalan.“

Masumi mengerutkan dahi setelah Mizuki memberitahu tempat di mana Shiori dirawat, Masumi langsung pergi ke RS .

Masumi menuju kamar tempat Shiori dirawat. Dokter masih memeriksanya di lab jadi Masumi menunggu, kemudian seorang perawat mendekati Masumi, “Tuan, anda suaminya? Ini tas tangan Istri Anda, petugas paramedis baru mengantarkan kemari.“ kata perawat.

Masumi mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba tas Shiori bergetar, dibuka tas istrinya tersebut. Ada yang menarik perhatiannya, sebuah amplop berasal dari sebuah Labotarium. Masumi melihat bahwa hasil lab itu ditujukan untuk Shiori. Penasaran Masumi membuka amplop  itu dan terkejut karena di sana disebutkan kalau Shiori sedang mengandung dan telah memasuki minggu ke empat.
HP Shiori begetar lagi, sebuah pesan telah masuk. Di sana hanya tertulis  studio KID jam 12.10. Masumi mengerutkan dahi, langsung ditelponnya Hijiri dan memerintahkannya ke studio Kids, lalu Ia menelpon HP Maya. Kemudian dilihatnya Shiori datang menggunakan kursi roda dan didorong oleh seorang perawat. Masumi langsung bertanya sambil memperlihatkan SMS yang masuk. “Shiori apa maksudnya ini?“ Herannya Shiori tersenyum, tapi senyum Shiori membuat bulu kuduk Masumi berdiri. “Kali ini, kamu akan gagal menyelamatkannya “

Tanpa menghiraukan Shiori, Masumi berlari keluar dan masuk ke mobil. Dilihatnya arloji di pergelangan tangan. 15 menit lagi. Dengan kecepatan tinggi Masumi pergi ke arah studio Kids. Dihubungi HP Maya dan tetap tidak ada jawaban. Masumi berdoa semoga Hijiri sampai tepat waktu.

Maya mendengar penjelasan Pak Korunuma di Studio Kids bersama pemain pendukung Bidadari Merah, selain Koji yang mendapat tawaran membintangi sebuah iklan dan sedang syuting sehingga dia tidak datang hari ini. Sedangkan di ruang ganti ada seseorang yang mengambil sebuah Hp dari sebuah tas tanpa ada yang menyadarinya.

Jam 12 tepat Pak Korunuma, mengakhiri pertemuan itu dan mengingatkan mulai minggu depan latihan dimulai. Semua keluar bersamaan dan beberapa orang mengajak Maya makan siang. Maya pun setuju, dia bermaksud memberitahu Rei dan menyadari HP nya tidak ada. Maya pun kembali ke studio dan menyuruh yang lain berangkat duluan.

“Aneh…“ kata Maya, “tadi kan ada di tas, kok sekarang tidak ada?“ Dicarinya HPnya dan ditemukan di sebuah meja, “kok aneh HP ku kenapa bisa berada di sini ya?” kata Maya. Tiba-tiba pintu studio tertutup dan terdengar suara kunci di putar ,Maya langsung berlari ke arah pintu dan mengedor pintu “OIIIII... BUKA PINTU …!!!” kata Maya berulang kali. Maya akan minta bantuan saat disadarinya bahwa Hpnya mati, tiba-tiba di sela-sela pintu masuk asap yang membuat Maya terbatuk-batuk, sekali lagi digedornya pintu tersebut.

Masumi dan Hijiri datang hampir bersamaan, tepat seseorang keluar dari studio dengan tergesa-gesa. Melihat kedua orang di depan studio, orang tersebut lari. “Hijiri kejar dia!!“ kata Masumi yang langsung masuk ke dalam studio. Masumi disambut dengan asap tebal dan beberapa tempat telah terbakar. ”MAYA... KAMU DIMANA…???!!!!“ beberapa kali Masumi memanggil Maya ketika Masumi mendengar, “aku huk … huk disini!!“ Maya terbatuk. Masumi langsung menuju asal suara dan berusaha membuka pintu yang ternyata dikunci. Masumi mencoba mendobrak pintu tersebut. Usaha pertama Masumi gagal tapi Masumi tidak putus asa. Akhirnya di usaha yang ketiga Masumi berhasil. Maya nampak terduduk lemas, Masumi menggendongnya keluar.

Hijiri mengejar orang tersebut sudah beberapa blok, kemudian pria tersebut berbelok ke sebuah gang. Ternyata pilihan yang buruk karena gang tersebut adalah gang buntu. Hijiri menarik orang tersebut ketika berusaha menaiki pagar. Pria tersebut terjatuh, ia menendang Hijiri ketika mencoba mendekat. Hijiri terjengkang, pria tersebut berusaha lari, tapi Hijiri menerjangnya. Mereka bergulat sampai Hijiri berhasil berada di atas orang tersebut dan menghadiahinya dengan sebuah pukulan yang membuat pria tersebut pingsan.

Seseorang pasti memanggil Pemadam kebakaran karena ketika Masumi keluar dua orang dari petugas kebakaran membantu mereka, bahkan sebuah ambulanc sudah menunggu mereka. Keduanya langsung diperiksa dan diberi oksigen.

Masumi telah menjalani pemeriksaan dan dokter menyatakan bahwa dia baik-baik saja. Diluar, Pak Kuronuma, Rei dan lainnya menunggu Maya yang masih menjalani pemeriksaan. Pak kuronuma mendekati Masumi, “kamu tidak apa apa? Beruntung kamu datang tepat waktu kalau tidak… Aku tidak berani membayangkan.“ Lalu ia menunjuk keluar, “wartawan mulai berdatangan. Kelihatannya ceritamu menjadi pahlawan telah tersebar.” Hal itu menyebabkan Masumi kesal, saat ini banyak hal yang harus diselesaikan. “Pak Kuronuma kelihatannya aku membutuhkan bantuan Anda“ yang membuat Pak korunuma memandang Masumi dengan pandangan bertanya.

Masumi memasuki rumahnya dengan perasaan marah. Dilihatnya Shiori duduk sambil melihat berita di TV. Kebakaran di Studio Kids memang ditayangkan tapi belum diketahui apakah ada korban jiwa. Masumi berdiri di depan Shiori dengan senyum kemenangan.

“Sekali lagi Shiori, aku berhasil menyelamatkan Maya.“ Kemudian Masumi duduk di hadapan Shiori. “Dan banyak yang harus kita bicarakan,“ katanya sambil mengeluarkan amplop hasil Labotarium yang diambil dari tas Shiori di rumah sakit. Shiori hanya menatap Masumi, sadar bahwa akhir pernikahannya sudah di depan mata tapi Shiori masih mencoba. “Apakah kamu tahu bahwa perceraian tidak dapat dilakukan selama istri hamil?“

Masumi tersenyum masam, “kurasa itu tidak berlaku jika sang istri hamil dengan pria lain, menurutmu Takeshi akan mengakuinya atau tidak? Menurutku dia dengan senang hati mengakuinya.”

Shiori terkejut, “bagaimana kamu bisa tahu?”  Masumi kembali tersenyum “ bukan hanya kamu yang menyewa untuk mengawasi seseorang, Shiori.“

“Kita akan bercerai secepatnya,“ kata Masumi. “Bila aku menolak?“ kata Shiori “apa yang akan kamu lakukan? Melaporkan aku ke polisi sebagai otak yang membakar Studio Kids?“ Shiori mengeluarkan Hpnya, “kamu tidak memiliki buktinya, kartu SIM telah aku buang, kamu tidak memiliki bukti,”

Masumi kembali tersenyum kemudian ia mengeluarkan sebuah HP yang terbungkus plastik,“ kurasa ini cukup, di HP ada sidik jarimu.“ kata Masumi, ”akhirnya aku tahu siapa dalang peristiwa di panggung, berkat ini aku bisa mengetahui bagaimana kamu membayar orang tersebut, kamu menyuruh bibi pengurus dari keluarga Takamiya bukan?” Masumi kemudian berkata, “aku mungkin tidak bisa menuduhmu, tapi aku bisa membawa keluarga Takamiya dalam masalah.“

Shiori membuka suara untuk menjawab, “jika kamu menyeret keluarga Takamiya, kerjasama Daito dan Takamiya akan berakhir. Daito akan dalam kesulitan.“

Kali ini Masumi tertawa, “kamu kira aku bodoh, Shiori. Selain dengan Takamiya, Daito berhasil bekerja sama dengan perusahaan internasional, bila kerjasama itu berakhir perusahaan Takamiya yang mengalami kesulitan,” Masumi berdiri dengan tidak sabar, “aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan Shiori, jangan menguji kesabaranku.“ Kata Masumi. “Kita bercerai atau akan kubawa ini ke kantor polisi,“ sambil mengantongi HP tersebut ke sakunya. Terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah dan sepertinya Masumi mengenalinya, “masalah kita sudah selesai, aku rasa kamu juga harus menyelesaikan masalah dengannya,“ kata Masumi saat Takeshi Amachi turun dari mobil. Shiori berdiri untuk melihat siapa yang datang. “Demi bayimu,“ kata Masumi kemudian.

Masumi datang ke rumah sakit lewat pintu belakang, Untunglah, karena para wartawan masih menunggu di depan. Masumi masuk ke dalam kamar. Rei dan Sayaka yang menjaga Maya. Masumi tadi sempat mengingatkan Rei dan lainnya, agar tidak meninggalkan Maya sendirian. Rei dan Sayaka langsung berdiri, sedangkan Maya hanya memandang Masumi. Ia ingin memeluk Masumi tapi di sana ada Rei dan Sayaka. Keduanya langsung pamit dengan alasan mencari kopi tinggallah mereka berdua.

Masumi duduk di samping tempat tidur Maya.
“Mungil… maafkan aku, aku yang menempatkan kamu dalam bahaya, maafkan aku.“

Maya hendak mengatakan sesuatu, Masumi mengangkat jarinya dan meletakkan tangan di bibir Maya, “dengarkan aku Maya, aku dan Shiori akan bercerai.“

Maya membeliakkan matanya.

“Dia ada di balik dua pristiwa yang terjadi, di pertunjukan dan Studio Kids, lagipula dia hamil,“ Masumi melihat Maya memucat, buru-buru Masumi menambahkan, “bukan denganku, “ katanya lembut.

”EH...” jelas sekali Maya terkejut

“Aku tidak pernah… ehm… bersamanya,“ kata Masumi dengan wajah memerah.

“Kenapa... eh... bukannya kalian menikah?“ tanya Maya dengan malu-malu.

“Jika aku ingin melakukannya… aku hanya ingin dengan satu orang.“ katanya dengan wajah semakin merah demikian juga dengan Maya.

“Maya dengarkan aku, aku mohon percayalah padaku, walau aku bercerai dengan Shiori, kita tidak bisa langsung bersama, aku tidak ingin kamu dianggap sebagai orang ke tiga, perjalanan kita masih panjang jadi aku mohon percaya padaku,“ kata Masumi.

Maya memeluk Masumi, “tentu saja, aku percaya, selalu percaya.“ kata Maya.

Masumi balas memeluk Maya, dia mencium rambut Maya lalu dia menjauhkan diri dari Maya walau masih memeluknya, ia mengangkat wajah Maya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Maya. Dikecupnya lembut bibir Maya, kemudian lagi dan lagi.

“Akhirnya aku bisa menciummu dalam keadaan sadar,” kata Masumi ketika ciuman itu selesai. Maya tertunduk malu, pipinya juga memerah, ia menyurukkan wajahnya ke dada Masumi ketika menyadari sesuatu, “dalam keadaan sadar…“ kata Maya sambil menegakkan badannya. Masumi kelihatan salah tingkah membuat Maya memandangnya dengan curiga, “ah maksudku… akhirnya aku bisa menciummu,“ kata Masumi tapi Maya tetap memandang curiga lalu Masumi memeluk Maya kembali, “ehm mungkin suatu saat akan kuceritakan,“ katanya sambil mencium kepala Maya.
Masumi sadar jalan untuk bersama Maya masih panjang tapi …....New Day Has Come. 

The Hardest day of My live






Found at Beemp3.com



Cerita Orisinil
Saat Masumi harus memutuskan antara Maya dan Shiori
(By Dina KD)


One more day, one last look
Before I leave it all behind
And play the role that's meant for us
That said we'd say goodbye
If I promise to believe will you believe
That there's nowhere that we'd rather be
Nowhere describes where we are
Ive no choice, I love you
Leave, love you wave goodbye
And all I ever wanted was to stay (all I ever wanted was to stay)
And nothing in this worlds gonna change,
Never wanna wake up from this night
Never (never) wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you  is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life
I still breathe (I still breathe), I still eat (I still eat)
And the sun it shines the same as it did yesterday
But there's no warmth, no light
I feel empty inside
(The Hardest Day by The Corrs)

*********************************

                          Gadis mungil itu  keluar mobil dengan sedikit tergesa. Ia melihat ada dua mobil terparkir di vila tepi pantai yang tidak terlalu besar. Sedikit berkerut Ia mendekati pintu dan akan mulai mengetuk ketika Ia mendengar suara “Shiori… apa yang kamu  lakukan, itu berbahaya.Kumohon tenanglah dan masuklah kembali “  penasaran akan apa yang dia dengar, Maya masuk dengan berlahan dan tanpa suara . Ia berada di lorong, dengan perlahan Ia melangkah menuju ke ruang tengah. Hampir saja Ia berteriak. Dengan cepat Ia mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia melihat wanita yang dipanggil Shiori duduk di pagar balkon yang menghadap tebing. Ia mengancam akan melompat, lelaki yang membujuknya turun, berusaha tenang dan tetap membujuknya walau Ia sendiri  tampak gugup "Shiori aku mohon ayo masuklah... kita bicarakan baik-baik…..” Shiori memandang lelaki di depannya dengan berurai air mata.
“Aku akan melompat…Jika kamu mendekat Masumi….  ohhh aku bersumpah aku akan melompat bila kamu mendekat lagi.“

Lelaki yang dipanggil Masumi memucat “Shiori…” ada banyak kata yang ingin Ia ucapkan dan ungkapkan semua berputar putar di kepalanya  namun tak ada satu kata pun yang terucap.

”Apa yang kamu lakukan Shiori? “

Wanita itu terisak, “seharusnya aku yang bertanya  apa yang kamu lakukan Masumi. Kamu setuju menjadi tunanganku lalu kamu mempermainkan aku dengan membatalkan pertunangan. SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADAMU!!! Kamu membuatku jatuh cinta dan sekarang kamu mencampakkan aku seakan-akan aku sampah.“

Laki-laki itu menggelengkan kepala, “bukan… bukan seperti itu. Maafkan aku.”

Shiori tertawa pahit lalu menatap Masumi dengan terluka, “apa yang kamu maksud bukan seperti itu…?”

Masumi membujuk Shiori, “aku mohon Shiori turunlah… kita bicarakan baik-baik.”

Shiori diam beberapa saat, yang terdengar hanya isakannya.

“Shiori aku mohon... kita bicarakan baik-baik”

Shiori seakan-akan berpikir, ”aku akan turun, asal kamu janjikan padaku satu hal“, Shiori berkata pelan, kemdian Ia mengambil nafas panjang. “tidak ada pembatalan pertunangan dan kita akan menikah… secepatnya.”

Perasaan Masumi bergejolak. Sungguh Ia tidak ingin menikah dengan Shiori apalagi setelah tahu perasaan Maya padanya. Mungkin perasaan Masumi terlukis di wajahnya karena tiba-tiba saja Shiori melepaskan pegangan dari pagar dan menjatuhkan dirinya ke arah tebing. Masumi berteriak terkejut. Untunglah dengan sigap Ia menarik dan memeluk Shiori. Shiori hanya menangis dan berusaha meronta sekuat tenaga.

“Lepaskan aku!! Biarkan aku mati!!!“ Sekali lagi dia meronta, “mungkin dengan begitu kamu akan puas!!!“

Masumi sadar Shiori sungguh-sungguh dengan ucapannya. Sadar Ia tidak punya pilihan, Masumi memejamkan mata, “aku turuti permintaanmu. Aku mohon tenanglah…”

Shiori langsung memalingkan wajahnya ke arah Masumi. Seakan tak percaya atau tak mengerti .Masumi terpaksa  mengucapkannya sekali lagi, “aku turuti permintaanmu, asal kamu janji tidak membahayakan nyawamu lagi.”

Shiori memeluk Masumi sambil menganggukan kepala, “Aku janji.“

            Maya memandang semua dengan pikiran kosong. Air mata membasahi pipinya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan Ia menangis. Dia membalikkan badan, dengan perasaan kacau Maya keluar dari villa dan tanpa suara Ia menjauh dari sana. Sampai seseorang memanggilnya dan mengguncangkan bahunya. Seakan-akan baru sadar, Maya memfokuskan pandangannya pada orang yang menyapanya. Dengan sekuat tenaga dan menahan isaknya, Maya menjawab “Pak Hijiri…“

Hijiri menatap tajam, Ia bisa melihat kalau Maya sedang shock. “Maya, apa yang terjadi…?” Ia melihat ke arah villa dan beranjak ke sana, tapi Maya menahannya “Pak Hijiri... tolong bantu aku... aku ingin pulang.” Tanpa terasa air mata mengalir di pipi Maya, Hijiri bimbang dia melihat ke arah villa “Jangan khawatir… Pak Masumi baik-baik saja. Bisakah Anda mengantarku pulang?“

“Tentu saja,” jawab Hijiri. Dibantunya Maya berjalan menuju mobil. Dia juga membantu Maya duduk. Setelah yakin Maya duduk dengan nyaman, Ia menutup pintu belakang mobil. Sekali lagi ia melihat ke arah villa lalu dia masuk ke mobil dan mengantar Maya pulang .

            Di dalam villa Masumi masih memeluk Shiori yang walaupun tidak lagi kalut tapi suara isak tangisnya masih belum berhenti. Wajah Masumi pucat dan matanya tidak lagi memancarkan cahaya. Ia memandang kosong, sedangkan Shiori yang tetap memeluk Masumi dan menyandarkan kepalanya di bahu Masumi tiba-tiba tersenyum penuh kemenangan.

“Akhirnya… Masumi milikku,“ katanya dalam hati.


                        **************************

Sebulan kemudian.


Pernikahan yang akan dilangsungkan disambut dengan pemberitaan yang luar biasa. Hampir setelah pengumuman pernikahaan akan dilaksanakan, langsung menjadi berita hangat. Terutama alasan mengenai kenapa keduanya memutuskan untuk menikah dengan terburu buru. Isu yang beredar menyebutkan bahwa Shiori sedang hamil karenanya keduanya mempercepat pernikahan. Tidak ada keterangan dari kedua belah pihak kecuali bahwa persiapan pernikahan memang sudah dilaksanakan dari jauh jauh hari namun isu itu tetap berkembang di masyarakat.

            Maya sedang sarapan. Entah bagaimana dia bisa melewati hari-hari setelah kejadian itu. Ia tetap makan, tetap menjalani hari-harinya seperti biasanya. Bahkan matahari bersinar seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Hanya Maya merasa, entah kenapa semuanya terasa kosong dan hampa. Matahari tidak lagi terasa hangat dan menyenangkan. Beberapa hari lagi Ia dan Ayumi akan memperebutkan Bidadari Merah. Rei sudah berangkat pagi tadi ke studio bawah tanah untuk latihan bersama yang lain. Tiba-tiba HP Maya berbunyi. Ia mengerutkan dahi ketika melihat nama yang tercantum di HP-nya.

“Hallo Pak Hijiri, ada apa…? Oke, aku akan datang. Jam berapa Anda menjemput…? Baiklah aku akan bersiap.“ Setelah memutuskan hubungan, Maya memutar serangkaian nomor. Dia harus memberitahu Rei dan untunglah tiga hari ke depan latihan libur karena Pak Korunuma sedang menemani anaknya yang sakit.

        Terdengar suara ombak yang berkejaran, angin mempermainkan rambutnya. Ia tampak kosong memandang ke arah lautan sambil membatin kenapa pantai ini tidak lagi membuatnya tenang dan damai. Dihisapnya rokok dengn hisapan panjang yang tiba-tiba malah menyesakkan dadanya. Masumi terbatuk ketika seseorang menyapanya dari belakang, Masumi tersenyum, dan baru disadarinya baru hari ini dia tersenyum dengan tulus. Hampir sebulan ini Masumi bagaikan robot. Ia tidak lagi  merasa hidup dan bagi karyawannya Masumi semakin dingin dan kaku. Ia nampak agak kurus membuat Maya sedikit terkejut. Maya dan Masumi hanya saling berpandangan tanpa kata, hanya diiringi debur ombak dan suara burung camar. Di ujung jalan Hijiri memandang keduanya. Ia menghela nafas, sadar bahwa hari ini hari terakhir mereka berdua bisa bersama.
      Mereka berjalan bersama. Tidak seorang pun yang mengeluarkan suara. Mereka hanya diam membisu, berjalan sepanjang pantai. Seakan takut suara salah satu dari mereka membuyarkan mimpi yang selama ini mereka idamkan berdua berlibur di Izu . Hanya ada mereka berdua, Tampak seekor kepiting kecil bewarna merah berjalan dengan cepat. Maya tersenyum, “Anda benar, di sini banyak kepiting…” katanya sambil melihat ke arah Masumi. Masumi merasa tidak dapat menahan diri dan memeluk Maya, “Mungil… aku… maafkan aku…“ sambil mempererat pelukannya pada Maya. Maya membalas memeluk Masumi dan menjawab. “tidak… Anda tidak salah...” Maya menjauhkan badannya walau tidak melepaskan pelukannya. “Hari ini… hanya hari ini… bisakah… tidak ada Masumi Hayami atau Maya Kitajima… yang ada hanya Mawar ungu…“ Maya menekankan kata ‘Mawar Ungu’ dan dengan senyum sedikit pasrah Ia melanjutkan, “…dan Mungil.“

Masumi tersenyum dan memeluk Maya, “Jadi kamu sudah tahu…“

Maya mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Masumi. Sambil tersenyum dia menjawab, “Tentu saja.“ kata Maya tegas dan kembali Masumi tersenyum dan mempererat pelukannya.

‘Ya Tuhan…’ katanya dalam hati, ‘bagaimana bisa aku melepaskan orang yang aku  cintai’ dengan sekuat tenaga Masumi mengendalikan dirinya. ‘Hari ini… hanya hari ini… aku akan bersamanya.’

            Sepanjang hari mereka bercakap-cakap, bahkan mengingat-ingat kenangan mereka yang membuat Maya sedikit merajuk dan bertengkar tapi juga tertawa bahagia. Sekali lagi Masumi membawa Maya berjalan-jalan ketika matahari mulai beranjak ke peraduan. Kecapaian, mereka berdua tertidur di kursi malas dengan Maya di pelukannya. Untuk pertama kali dalam sebulan ini Masumi dapat tidur dengan nyenyak.

            Maya terbangun, Ia melihat sinar matahari terakhir akan digantikan sang malam, juga menyadari waktu yang dimilikinya telah habis. Mimpinya  telah usai dan sekarang Ia harus kembali terjaga, walau Ia tidak ingin terbangun, dengan hati-hati Maya melepaskan pelukan Masumi. Maya terdiam ketika Masumi bergerak, tapi Masumi tetap tertidur dengan nyenyak. Tanpa disadari Maya air mata kembali menetes, “selamat tinggal… Pak Masumi… selamat tinggal… Mawar Unguku.“ Dengan enggan Maya menjauh dan sebelum berubah pikiran untuk memeluk Masumi lagi, Maya berlari meninggalkan pantai. Ia berlari sampai ke ujung jalan. Tampak sebuah mobil mendekatinya.

Hijiri turun dari mobil tersebut, “Maya... saya akan mengantar Anda pulang.“ Katanya pelan. Maya hanya mengangguk.Sekali lagi ia menoleh ketempat Masumi berada sebelum ia masuk ke mobil. Dibantu Hijiri, Maya meninggalkan Izu.

            Masumi hanya diam mendengar Maya mengucapkan selamat tinggal. Ia mengepalkan tangan, berusaha menguasai keinginannya untuk mengejar Maya. Dibukanya mata, dilihatnya sinar matahari terakhir. Suasana pantai tampak sunyi, hanya debur ombak dan sang malam yang menemaninya. Masumi tetap tidak bergerak, hanya menatap sang malam.

            Maya menangis tanpa suara. Ia dari tadi memandang ke luar jendela, tapi tatapannya kosong. Maya meraba saku jaket mencari saputangan untuk mengusap air mata yang keluar, ketika menyadari ada sebuah kotak di sakunya, dikeluarkannya kotak tersebut. Kotak itu kecil, berwarna merah. Maya membukanya perlahan, ada sebuah surat di dalamnya serta sebuah kalung emas dan liontin berbentuk hati dengan ukiran mawar ungu di tengahnya. Kalung itu sangat cantik, tanpa sadar Maya merabanya, kemudian beranjak ke surat yang menyertainya


    Mungil…

    Bila kau menerima ini, aku tidak bisa lagi menemanimu

    maafkan aku… aku ingin berada disampingmu

    melindungimu, menyayangimu dan mencintaimu

    dan itu tak kan berubah sampai kapanpun

    Mungil…

    hadiah ini aku siapkan ketika aku mengungkapkan jati diriku

    aku ingin kamu mengetahuinya

    akulah Mawar Ungu-mu, pengagummu, pelindungmu

    dan yang terpenting…

    pria yang mencintaimu  dan percayalah…

    sampai kapanpun aku takkan berubah…

    Mungil…

    kupersembahkan kalung ini…

    seperti kalung ini hatiku ada di genggamanmu

    aku tak kan mengucapkan selamat tinggal

    karena aku percaya… kamu adalah belahan jiwaku

    selalu dan selamanya

    (dari Mawar Ungu –mu)


          

            Maya membaca surat itu sekali lagi sebelum Ia menyimpannya di saku jaketnya. Hingga dia sampai di Tokyo, Maya diam membisu sambil menggenggam kalung tersebut.

******************



            Suasana Hotel tampak ramai, beberapa aktris terkenal turut hadir dalam pernikahan Direktur Daito. Suasana pesta tampak mewah, pengantin wanita nampak cantik. Bak dongeng, seorang putri Shiori menggunakan baju pengantin putih dan tiara berlian. Semua memuji kecantikannya. Para wartawan pun turut sibuk mengabadikan pasangan yang baru menikah. Mizuki memperhatikan keduanya dari jauh. Sekali lagi, seperti biasanya di kantor, hari ini dia juga menjadi seksi sibuk mengurus banyak hal. Ia melihat atasannya dan sekali lagi dia menghela nafas panjang. Masumi nampak tersenyum dan senyum itu tidak terlepas dari Masumi. Bagi orang yang tidak mengenalnya, keduanya tampak bahagia tapi jelas bagi Mizuki kalau atasannya hanya berpura-pura. Ia menghela nafas, teringat sesuatu.

Maya… kata mizuki dalam hati. Terdorong rasa kuatir, Ia tadi menelpon apartemen tempat Maya tinggal. Rei yang menerima dan mengatakan Maya sedang latihan terakhir dan tidak berada di Tokyo sampai pentas percobaan Bidadari Merah.

********************



            Maya tidur terlentang memandang bintang. Di sini di Kampung halaman Bidadari Merah ,mereka berdua berbaring telentang dan bertengkar . ' disini ......' kata maya dalam hati .Tanpa disadari ia menoleh ke tempat Masumi dulu berbaring yang sekarang kosong. Maya  pun kembali menangis .

Pak Masumi… panggil Maya dalam hati. Dirabanya kalung pemberian Masumi dan digenggamnya. Belahan jiwaku…

          ******************************************


                    Wanita itu tampak gugup, ia mengenakan lingerie yang cukup seksi bewarna pink sewarna dengan rona yang muncul di pipinya. Dengan gemetar Ia meraih parfum dan menyemprotkan ke tubuhnya. Warna di pipinya semakin merah membayangkan suaminya melepaskan gaunnya itu. Ia menghela nafas, mematut dirinya di depan cermin yang ada di kamar mandi hotel yang mewah. Wanita itu seakan mengacuhkan ruangan yang mewah itu dan merapikan rambutnya. Rambut yang biasa tersanggul rapi kini terurai. Diraihnya lagi sisir untuk merapikan rambutnya, "ahh aku tidak ingin semua pria. Aku hanya ingin satu pria dan pria itu menungguku."  Seakan-akan teringat sang suami, wanita itu meletakkan sisir tersebut. Sekali lagi Ia mematut pada cermin, Gaunnya yang tipis dan menerawang tidak dapat menyembunyikan lekuk tubuhnya. Rona merah kembali muncul di pipinya.

Dengan gemetar Ia membuka pintu. Wanita itu tidak berani mengangkat kepala karena malu. Ia menundukkan mata. Hening yang menyambutnya. Hanya lampu tidur yang menyala. “ehm... aku... ehm… aku sudah siap,” katanya pelan hampir berbisik tapi hanya kesunyian yang menjawab. Membuatnya mendongakkan kepala, sedikit berkerut melihat tak ada siapa-siapa di sana. Dilihatnya tempat tidurnya kosong. Pintu kamar yang berhubungan dengan ruang tamu sedikit terbuka. Dalam hati Ia bertanya, apa suaminya ada di ruang tamu? Dilihatnya gaun yang dipakainya. Ia ragu apakah dia berani melangkah dengan gaun seperti ini. Lalu dengan menghela nafas panjang wanita itu berjalan dan membuka pintu kamar.


“Masumi... apakah kamu di sana?” tanyanya pelan. Sekali lagi hanya kesunyian yang menjawab. Dilihatnya sekeliling ruangan, ternyata tidak seorangpun yang ada. Shiori terkejut dan bertanya kenapa pria yang  baru dinikahinya tidak berada di honeymoon suite tersebut dan malah meninggalkan istrinya sendirian. Shiori meraih telpon hendak menanyakan suaminya ke meja resepsionis di bawah tapi diurungkan. Itu bisa jadi skandal. Dilihatnya sekali lagi sekeliling ruangan, bahkan ke tempat penyimpanan jaket dekat pintu keluar kamar.

“Tidak ada, Masumi tidak ada…” kata Shiori pelan, Perlahan Ia duduk di sofa. Tanpa Ia sadari air mata menetes di pipinya. Masumi meninggalkannya di malam pertama mereka menikah.

                     Masumi berhasil keluar tanpa diketahui siapapun, jam menunjukkan angka 12. Sudah tak banyak lagi orang yang berlalu lalang di hotel ini. Ia menuju atap hotel sambil membawa sebotol anggur dan gelas. Ia melarikan diri dari istrinya. Sepanjang hari ini Ia berusaha menikmati tapi bayangan Maya yang berkelebat di matanya membuatnya hampa. Ia berjuang agar tak seorangpun curiga kalau hari ini dia menderita.

               “Mungil…” ketika bayangan Maya muncul di benaknya, diraihnya botol dan menuangkan anggur itu penuh ke gelasnya dengan sekali teguk Masumi menghabiskan anggur tersebut. Angin seakan membelai wajahnya. Seperti biasanya, malam hari di Tokyo tak ada bintang yang kelihatan, membuat hati Masumi semakin mendung.

                                              

                                                ***************************************

            Masumi berjalan pelan saat angka menunjukkan jam 4 pagi ketika Ia melangkah kembali ke kamarnya. Sebentar lagi banyak pegawai dan tamu akan bangun. Jadi dia kembali ke kamarnya dan berharap semoga Shiori sudah tidur.

               “Sofa hmm... aku bisa tidur di sofa,” kata Masumi dalam hati. Dengan kartu yang dibawanya, dibukanya pintu kamar honeymoon dengan perlahan. Ia masuk pelan-pelan dan menghembuskan nafas lega ketika melihat ruang tamu kamar itu kosong. Dilepaskan jas dan sepatu yang dipakainya. Ia mengatur bantalan sofa dan mulai membaringkan badannya yang lelah. Tanpa sadar Masumi tertidur.

            Shiori mendengar suara pintu tertutup dengan pelan. Air matanya masih belum kering. Semalam Ia tidak bisa tidur. Ia menunggu Masumi kembali. Di lantai tampak lingerie yang dipakainya teronggok di sana. Shiori hampir saja merobek-robek gaun itu karena kesal dan tak berdaya. Ia berhasil menikahi Masumi tapi jelas Masumi tidak mencintainya dan tidak melupakan gadis itu. Shiori benar-benar merasa terhina. Bagaimanapun Ia adalah cucu perempuan satu satunya dari perusahaan Takamiya. Bagaimana mungkin Masumi memperlakukannya seperti ini. Ia mengangkat kepala, menunggu Masumi memasuki kamar. Setelah ditunggunya beberapa saat dan Masumi tidak muncul juga, diraihnya mantel kamar dan menuju pintu kamar. Ia melihat Masumi terlelap di sofa. Shiori benar-benar merasa marah karena dia bahkan tidak mau masuk ke kamar. Shiori menutup pintu dan kali ini dia menguncinya dan berhamburan ke tempat tidur. Sekali lagi dia menangis

            Masumi terbangun karena mendengar suara mengalir dari kamar mandi. Dilihatnya arloji menunjuk angka 8. Direnggangkan badannya. Sebentar lagi Ia harus menghadapi Shiori. Diangkatnya telepon untuk memesan sarapan dan kopi. Diraihnya jas dan mengambil Hp nya. Diputarnya serangkaian nomor. “Hijiri…” katanya, setelah membalas salam dari orang yang diajaknya bicara, “pastikan Maya tidak apa-apa. Aku mohon jaga dia… terima kasih Hijiri.” ketika Masumi mendengar jawaban dari Hijiri.

            Shiori mendengar ucapan Masumi, hatinya seperti tertusuk jarum. Ternyata Masumi belum bisa melupakannya. Ditenangkan dirinya dan dengan perlahan Ia membuka pintu kamar. Sesaat mereka saling berpandangan tapi Masumi mengalihkan pandangannya dan berkata, “sarapan sebentar lagi datang, aku ke kamar mandi dulu,” katanya sambil masuk kamar dan mengunci dari dalam.

                               *************************

            Mereka sarapan dengan diam bahkan dari tadi Shiori hanya diam seribu bahasa. Ketika sarapan usai dan Masumi mengambil kopi, barulah Shiori bertanya, “tadi malam kenapa kamu meninggalkan aku? Harusnya tadi malam adalah malam istimewa bagi kita,“ sambil menahan tangis. Masumi memandang Shiori dan menjawab, “Shiori aku berjanji menikahimu tapi aku tak pernah berjanji untuk menjadi suamimu. Maafkan aku tapi aku tak berniat tidur satu kamar denganmu. Kamu boleh memilikinya untuk dirimu sendiri,” kata Masumi tersenyum.  “Apa maksudmu? Kita sudah menikah… aku istrimu dan kamu suamiku…” kata Shiori terkejut. Masumi tersenyum sinis, “benar kita menikah di atas kertas dan di depan umum kita menikah, tapi di hatiku hanya ada satu orang dan maaf, hatiku tidak dapat menampung yang lain.” Air mata mengalir di pipi Shiori, “kau…” katanya melihat Masumi dengan perasaan sakit hati. “Kau yang memaksa aku menikahimu, Shiori, walaupun aku sudah mengatakan aku mencintai orang lain,” kata Masumi, Ia beranjak ke pintu untuk keluar, ”…dan kamu pasti tahu perasaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan,” kata Masumi. “Akan kuhancurkan… aku akan menghancurkan Maya,” kata Shiori yang ikut berdiri dan berpaling ke arah pintu. Masumi hanya tersenyum tapi ada yang luar biasa di mata Masumi. Mata itu menjadi begitu menakutkan, belum pernah Shiori melihat Masumi seperti ini, tanpa sadar Shiori melangkah mundur. “Coba saja Shiori, akan kupastikan kamu mendapat ganjaran dua kali lipat.“ Dan tanpa menunggu jawaban dari Shiori Ia melangkah ke luar.

             Maya terbangun dengan perasaan kacau, semalaman dia tertidur di tempat Ia dan Masumi melihat bintang. Sekarang tanpa sarapan, Ia menuju halte bis. Ia harus pulang ke Tokyo. “Maya.” seseorang menyapanya. Terkejut, Maya menoleh ke asal suara. Hijiri berdiri di depannya, Ia melihat Maya dengan perasaan khawatir. Wajah Maya benar-benar menyedihkan. Wajahnya pucat, matanya bengkak (nangis semalaman sie), belum lagi bajunya yang kusut. “Maya, anda tidak apa apa?” Tanya Hijiri. Maya mencoba tersenyum, “saya nggak apa apa kok.“ Maya menjawab. Namun melihat Hijiri yang merupakan penghubung Mawar Ungu, tanpa terasa air mata mengalir lagi, yang membuat Hijiri semakin khawatir dengan cepat bergerak ke Maya tapi karena tidak hati-hati, Hijiri malah terpeleset dan jatuh. Membuat Maya terkejut. Setelah rasa terkejut hilang, Maya mulai tertawa padahal air matanya belum kering. Hijiri melihat Maya tertawa diam-diam merasa lega, hanya saja Hijiri memandang dengan rasa sedikit jengkel ke arah Maya. Maya yang merasakan tatapan jengkel itu buru-buru membantu Hijiri bangun. “Seperti bukan Anda saja, kok pakai acara jatuh,” katanya pada Hijiri. “Saya tidak apa, hanya lebam saja,” terang Hijiri. Kemudian Maya bertanya, “kenapa Anda di sini?” Hijiri tersenyum, “tentu saja mencari Anda,” jawabnya singkat. Maya yang memandang dengan wajah kebingungan dan Hijiri lantas meneruskan, “Mawar Ungu tidak akan pernah melupakan Anda, Maya. Mungkin dia tak ada di samping Anda tapi beliau akan selalu melindungi dan menjaga Anda sampai kapanpun.“

                  Maya langsung menggenggam liontin pemberian Masumi, “Anda benar. Aku tak kan pernah sendirian,“ katanya sambil tersenyum, “… dan aku akan menunjukkan terima kasihku dengan berusaha menampilkan yang terbaik untuk Bidadari Merah.“ Lanjutnya.

*****************************

             Tuuuut… tuuuut…

Terdengar nada tunggu sebelum diangkat, “halo…” belum selesai menjawab, penelpon sudah memotong pembicaraan, “bagaimana persiapannya? Pastkan jangan sampai gagal, soal uang jangan khawatir, akan kutambah bonus bila berhasil. Dan ingat, kita tidak saling mengenal,“ kata penelpon setelah mendengar jawaban Ia menutup telpon, ”kamu takkan berperan jadi Bidadari Merah, tak akan.“ Kata penelpon itu penuh kebencian.

*************************

            Dengan gemetar Maya menunggu pengumuman siapakah yang akan menjadi Bidadari merah. Maya melihat ke arah penonton. Matanya menatap Masumi yang duduk di baris paling depan bersama Shiori. Mereka bertatapan. Masumi tersenyum lembut dan entah kenapa menenangkan perasaan Maya dan gemetaran di tubuh Maya berhenti.

           Bidadari Merah Ayumi begitu bagus dengan teknik yang dimilikinya Ayumi bergerak dengan begitu indah dan tak seorang yang menyadari bahwa Ayumi mengalami kebutaan. Bahkan semua mengakui bahwa Ayumi pantas menjadi Bidadari Merah itu pada saat Maya belum memainkan bidadari merahnya.

            Tapi saat Maya memainkannya, semua terpana. Bidadari Merah Maya sangat luar biasa seakan-akan Maya menjadi bidadari yang sesungguhnya. Begitu agung, cantik dan welas asih tapi juga menakutkan. Semua mata memandang ke arah panggung tanpa berkedip seakan-akan sayang untuk melewatkan adegan yang ditampilkan terutama adegan perpisahan antara Issin dan Akoya, membuat semua penonton menangis .

               Hijiri mengikuti  orang tersebut sampai di belakang panggung. Orang itu nampak gelisah. Hijiri menyembunyikan dirinya ketika orang tersebut melihat sekeliling. Merasa yakin tidak ada yang melihat Ia mulai memanjat ke tempat lampu-lampu dan mengutak atik sesuatu, Hijiri melihat itu dengan was was. Di belakang panggung memang penuh dengan para pemain dan kru tapi semua perhatian ke arah panggung sehingga tak seorangpun tahu ada orang menyelinap dan naik ke lampu diatas panggung. “Maya…“ bisik Hijiri ketika menyadari maksud orang tersebut. Ia mulai mendekati panggung, menyadari hanya dua orang di panggung. Maya dan Ayumi.