Can't You Hold Me One More Time?
( dapatkah kamu memelukku sekali lagi ?)
Dina ( I ♥ Topeng kaca )
( Masumi )
Aku hanyalah seorang pria
yang sangat mencintaimu
dengan sepenuh hatiku
mencintaimu
menjadi pelindungmu dalam bayangan
melihatmu menangis dan tertawa
aku yang melihatmu dalam kesedirianku
cinta ini datang bagaikan badai
jika aku mengambil jalan ini
akankah kau mencintaiku ?
hanya sedikit .....hanya sedikit
aku ingin mencintaimu
setiap hari dihatiku
hanya dihatiku
dapatkah kau memelukku sebelum engkau pergi ?
( Maya )
aku hanyalah seorang wanita
yang sangat mencintaimu
dengan sepenuh hatiku
melihatmu hanya dalam bayangan
apakah kamu menyadarinya ?
aku tertawa dalam tangisku
di hatiku yang penuh dengan luka
cinta ini datang bagaikan badai
yang mencuri hatiku
hanya sedikit .....hanya sedikit
aku ingin menjadi bagian dari perjalanan hidupmu
tapi kau hanya menjauh setelah aku mendekat
dapatkah kau memelukku sebelum engkau pergi ?
( DKD )
Kehidupan
Maya berbeda sekarang,setelah pementasan bidadari merah. Maya menjadi
artis papan atas di Jepang. Maya telah membintangi sebuah film yang
langsung menadi box office tidak hanya di Jepang tapi juga di Asia,
belum lagi tawaran iklan yang ia bintangi.
Maya menggunakan gaun bewarna ungu dengan hiasan mawar di bagian dada.
Maya baru selesai syuting iklan ketika menerima telpon dari Pak Genzo.
Sekali lagi Bu Mayuko masuk rumah sakit setelah pementasan Bidadari
merah kesehatan Bu Mayuko memang tidak stabil.
Maya
mendengarkan penjelasan dokter bahwa Bu Mayoko akan sembuh apabila
mendapatkan donor jantung, tapi hal itu sulit karena untuk mendapatkan
donor yang cocok sangat sulit dan memiliki daftar tunggu yang panjang
selain itu biaya operasinya juga mahal.
Maya hanya tersenyum dan memberitahahukan dokter bahwa biaya bukanlah
masalah, kemudian dia beranjak masuk ke tempat Bu Mayuko dirawat
Shori Melangkah masuk ke kantor Masumi, hal ini membuat Masumi
terkejut selama ini Shori menghindarinya, apalagi setelah Masumi
mengatahui kebenaran tentang foto-foto pementasan Maya, atau usaha Shori
agar Maya buruk di mata Masumi dengan tuduhan mencuri cincin dan
penumpahan minuman di gaun pengantin Shiori.
“Shiori,“ sapa Masumi. Tanpa sengaja Masumi melihat pergelangan tangan
Shiori yang dibalut yang tetutup gaun lengan panjangnya. Masumi menghela
nafas. Setelah kejadian di Restoran keluarga Takamiya marah dan akan
memutuskan pertunangan mereka, tapi kemudian Shiori berulah kembali,
membuatnya berada pilihan yang sulit. Masumi mencintai Maya tapi jelas
untuk meninggalkan Shiori adalah hal yang sulit .
Shiori hanya mengangguk ketika Masumi Menyapanya. Shiori menutup
matanya menahan air mata yang entah kenapa hendak mengalir dari pelapuk
matanya. Dalam hatinya Shiori merintih betapa ia merindukan Masumi, ia
mencoba “Ya Tuhan aku sudah mencoba melepaskannya“ kata Shiori dalam
hati, tapi ia tak mampu. Dia benar benar tak kuasa, semakin ia menjauh
semakin Shiori menginginkan Masumi.
“ Aku…...” kata Shiori pelan, entah kenapa kata kata yang tadi
tersusun dikepalanya buyar ketika bertemu Masumi. Shiori menatap Masumi
lalu seakan mengumpulkan kekuatannya “ Masumi …. aku hanya ingin
memberitahukan, berhati hati lah ayah dan kakek merencanakan sesuatu “
kata Shiori kemudian ,Masumi tersenyum, Hijiri sudah mengatakan hal
tersebut beberapa hari yang lalu, walaupun ia belum mengetahui tindakan
apa yang akan dilakukan oleh Tetua dari keluarga Takamiya tersebut,
Hijiri masih menyelidikinya.
Masumi tersenyum yang membuat Shiori mengalihkan pandangannya dari
wajah Masumi karena tiba tiba saja rasa perih di ulu hatinya, menyadari
senyum itu bukan miliknya, milik Maya batin Shiori. ”Aku hanya tahu….
kakek merencanakan sesuatu“ katanya pelan “rencana itu bukan untukmu
tapi …... Maya“ katanya pelan.
Masumi mengerutkan dahi, ”Maya“ katanya pelan, ”Shiori, "Apa maksudmu“
kata Masumi tajam, raut wajah Masumi begitu menakutkan, tanpa
disadarinya Shiori mundur selangkah, jantungnya berdebar keras, Shiori
merasakan tangannya tiba tiba gemetar, Ia belum pernah melihat sisi
Masumi yang ini, menakutkan pikir Shiori. “aku…. aku hanya ingin kamu
tahu, aku permisi dulu“ kata Shiori, tanpa menunggu jawaban Shiori
melangkah ke pintu“ Shiori…. tunggu“ kata Masumi, Shiori menghentikan
langkahnya, ”mengapa kamu memberitahukan aku“ Tanya Masumi. ”karena….
aku menyerah, aku sudah tahu yang kamu cintai bukan aku“ kata Shiori.
“Jika aku menjawab aku tidak sedih maka tentu saja aku bohong, aku
sedih, marah juga kecewa tapi aku juga sadar ….... apa pun tak kan
mengubah keadaan“ kata Shiori sambil berusaha menghapus air mata yang
tiba tiba yang turun. Masumi menghela nafas sadar bahwa dirinya melukai
wanita ini, Masumi sangat sadar bahwa semua ini kesalahannya “Maaf,
Shiori aku benar benar minta maaf“ kata Masumi, Shiori hanya tersenyum
dan menatap Masumi “Masumi, ini tak kan mudah, ayah benar benar marah
demikian pula kakek, aku.....” shiori menghentikan perkataannya dan
memegang tangannya yang terluka “aku melakukan bukan.....agar
pertunangan ini terus berlangsung tapi…. sebaliknya“ kata Shiori lagi
“Awalnya ayah berniat memutuskan pertunangan tapi entah kenapa, ayah dan
kakek berubah pikiran“ Shiori menatap Masumi dan berkata “Seperti
paman Eisuke, bagi ayah dan Kakek perusahaan tetaplah nomer satu, jadi
mereka tidak mengabulkan permintaan aku” Kemudian Shiori berlalu dari
hadapan Masumi. Meninggalkan Masumi yang berdiri mematung.
“Nona, bagaimana?“ kata Bibi pengurus Takamiya ketika Shiori telah
duduk di dalam mobil “Tuan Masumi percaya?“ Shiori tersenyum “Tentu
saja, bukan cuma Maya yang bisa berakting“ Shiori tersenyum licik “aku
juga bisa.“ Kemudian Shiori berkata “Bibi ingat jangan sampai gagal“
Bibi tersebut langsung membungkuk “Jangan kuatir, nona, saya tidak akan
gagal.“ Shiori tersenyum “Masumi, kau takkan bisa lepas dari
genggamanku.“
Maya merebahkan diri di sofa di apertemennya yang baru saja ia tempati 7
bulan yang lalu ,Masumi yang menyuruhnya tinggal di sana, setelah Maya
berhasil mendapatkan peran dan hak pementasan bidadari merah. Maya
meminta Rei untuk tinggal bersamanya, tapi rei memilih tinggal bersama
Taiko dan Sayaka, tapi Rei sering menginap di sini. Bel pintu berbunyi,
Maya berkerut, ia mengerang ketika menggerakkan badan, badannya terasa
sakit. Maya baru saja pulang dari syuting Film di luar kota Tokyo.
Mungkin Rei kata Maya dalam hati, ia melangkah ke pintu dan mengintip
dari lubang pintu, seketika Maya tersenyum gembira, rasa capai yang
dirasanya hilang begitu saja, Maya langsung membuka pintu.
Masumi memasuki apertemen Maya, bahkan sebelum pintunya tertutup rapat,
Masumi langsung memeluk Maya dan mengangkat maya dengan pelukannya dan
membawa Maya memutar, Maya tertawa, dan memukul pelan bahu Masumi “kok
sudah tahu aku pulang?“ tanya Maya lembut, Masumi tersenyum “tentu saja
aku tahu, aku Masumi Hiyami.“ Maya terseyum “eh ada yang ketinggalan“
kata Masumi, alisnya mengerut, ”ehh apa yang ketinggalan“ tanya Maya
sambil berpikir sejenak “kaeri nasai” kata Maya mengucapkan selamat
datang ke Masumi, Masumi tersenyum “bukan itu, tapi ini…...” kata Masumi
sambil mengecup bibir Maya yang merah, pipi Maya merona dan menggeliat
melepaskan diri dari pelukan Masumi
“aku
ambilkan anda minuman dulu“ kata Maya begitu lepas, dan melangkah
pergi. Masumi tersenyum, walaupun ada juga rona merah di pipinya, ia
mengerutkan dahinya “eh Maya bukannya dapur sebelah sana“ kata Masumi
menunjuk arah yang berlawanan arah dengan Maya berjalan ,wajah Maya
semakin memerah “o ...iya “ kata maya pelan sambil menuju ke dapur.
Masumi tertawa tanpa suara begitu maya tidak kelihatan.
Masumi mendengarkan Maya menceritakan pengalaman syuting beberapa hari
ini ke Masumi, ”aku berhenti menghitung setelah 15 kali pengambilan
Take“ kata Maya sedikit cemberut “padahal adegan itu adegan yang
berdurasi nggak lebih dari 5 menit“ kata Maya menggelengkan kepalanya
“Seharusnya anda lihat Pak Himekawa tadi“ kata Maya, ”memangnya kenapa
?” tanya Masumi. "meledak
...ehmmm itu aja belom seberapa " kata Maya sambil mengerutkan hidung
dengan lucu ,Masumi tertawa dan tanpa peringatan ia mengecup hidung
Maya, Rona merah muncul kembali di pipi maya "Pak masumi" kata Maya
sambil melototkan matanya. Kembali masumi tersenyum "Mungil, ini bukan
pertama kalinya menciummu dan jelas bukan yang terakhir" kata Masumi
sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Maya, yang membuat rona merah di
pipi Maya makin merah dan tiba tiba maya meraih pinggang Masumi dan
menggelitiknya, Masumi tertawa karena geli "jera belum" kata maya
kemudian "kalau belum aku gelitik lagi "Masumi nampak menggelengkan
kepala" jera apa? Menciummu? Tak mungkin, sampai mati pun aku tidak akan
jera menciummu?" kata masumi sambil tersenyum. Maya mencubit lengan dan
pinggang masumi karena gemas dan malu, "Aow " teriak Masumi ketika
cubitan Maya mendarat di pinggangnya, ia meraih tangan Maya karena
cubitannya terasa sakit, mereka jadi bergulat karena Maya berusaha
melepaskan tangan tapi Masumi tidak mau melepaskan "Pak Masumi....
lepaskan..." kata Maya, Masumi hanya menggelengkan kepala dan
menyodorkan bibirnya "cium dulu," Maya hanya cemberut dan berusaha
menarik tangannya hingga tiba tiba dia kehilangan keseimbangan dan akan
terjatuh dari kursi, Masumi menarik Maya dan mengubah posisi sehingga
Masumi dulu yang jatuh ke bawah, untunglah karpet dibawah cukup tebal,
Maya nampak menyesal karena membuat mereka terjatuh tapi sebelum sempat
melontarkan komentar. Masumi menggulingkan tubuh membuat Maya tertindih
tubuh Masumi (^^bayangkan sendiri ya ), Maya membeliakkan matanya "Pak
Masumi" kata Maya berlahan.
Pak Masumi memandang Maya dengan lekat seakan akan menimbang sesuatu
"hmmmmmm .....apa yang membuatmu cantik, Mungil, sehingga aku terjerat
dan sulit melepaskan diri" Maya terdiam dan hanya mendesah karena
terkejut ketika jari masumi menelusuri wajahnya, "apakah karena Matamu?"
kata Masumi "aku selalu melihat semangat di sana, seperti bintang
bersinar, kedua matamu seperti menghipnotisku hingga aku tidak bisa
mengalihkan perhatianku ke wanita lain" kata masumi sambil mengecup
kedua mata Maya. "Atau
hidungmu " kata masumi "hidungmu yang selalu kembang kempis kalau marah
padaku " kata Masumi tersenyum, Maya akan mengucapkan sesuatu tapi
tertahan karena sekali lagi Masumi mencium hidungnya, "Atau kulitmu yang
halus," sambil mengelus pipi Maya yang merona dikecupnya kedua pipi
Maya, pandangan Masumi turun ke bibir Maya dan pandangan mata Masumi
menghangat "dan bibirmu, sering ketika kita berbicara atau bertengkar,
hanya satu yang ingin aku lakukan" kata Masumi sambil mencium bibir Maya
dengan lembut dan mesra (ide dari mbak Fagustina Martieningsih,makasih
ya mbakkkkk ), Maya mengalungkan kedua tangannya ke leher Masumi dan
menariknya semakin mendekat, Masumi menciumnya semakin dalam, dan dalam,
seakan akan enggan mengahiri ciumannya dan keduanya bergulingan di
karpet.
Suara Hyun bin mengalunkan lagu That Man membuat keduanya terkejut,
Masumi otomatis menjauhkan kepalanya dan "DUK!" kepala masumi membentur
meja, tanpa disadari keduanya bergulingan hingga dibawah meja yang
berada di tengah tengah ruang tamu, Maya memalingkan wajahnya sambil
menahan tawa, Masumi melototkan matanya melihat Maya yang menertawakan
dirinya, yang hanya dijawab Maya dengan suara ketawa yang tertahan,
dengan Masam Masumi meraih Hp disakunya tanpa merubah kedudukannya yang
menindih maya. "Kuharap ini penting" kata Masumi dengan Kental, Mizuki
yang menelepon hanya mendesah dengan mengucapkan salam dengan suara agak
keras untuk menyindir atasannya itu.
"Pak Masumi ada masalah serius ,salah satu perusahaan dari Korea tiba
tiba membatalkan kontrak " kata Mizuki "Maaf kalau saya mengganggu waktu
Bapak bersama Maya" Masumi terkejut "bagaimana ........." Pak Masumi
tidak melanjutkan ucapannya karena tiba tiba ia mengerang, ternyata Maya
berusaha melepaskan diri dengan cara menggeliat. Pak Masumi hampir
mengerang lagi tapi ditahannya seraya berkata "Mizuki aku akan segera
kembali" kata Masumi dan tanpa menunggu jawaban Masumi menutup telpon.
"Maya, apa yang kamu lakukan" kata Masumi "lepaskan Pak Masumi" kata
Maya sambil meronta dan tangannya memegang bahu Masumi untuk
menjauhkannya. "Jangan.... Maya hentikan " kata Masumi sambil
mengeretakkan giginya, ia memegang kedua tangan Maya dan menghembuskan
nafas panjang seraya menyembunyikan wajahnya di leher Maya. Maya yang
tiba tiba menyadari sesuatu dan berhenti menggeliat, diam tanpa berani
bergerak, hanya wajahnya memerah dan mata membeliak, beberapa saat tidak
ada yang bergerak, Masumi menjauhkan wajahnya, melihat wajah Maya yang
seperti udang rebus dan tak berani melihatnya "wanita berbahaya" bisik
Masumi dan mengecup dahi Maya "kurasa aku harus pergi sebelum akal
sehatku hilang " kata Masumi seraya bangkit dan membantu Maya yang masih
merona merah, dipeluknya Maya sekali lagi dan mengecup bibir Maya
sekilas dan mengucapkan salam sebelum beranjak pergi keluar apertement
Maya.
Maya
membelai bibir yang baru saja dikecup Masumi dan terduduk di sofa "met
malam " kata Maya menatap pintu, ia merona ketika teringat sesuatu
dibenamkan kepalanya di bantal yang ada sambil tersenyum senyum sendiri .
********************
seminggu kemudian.
Maya berlari di RS Tokyo menuju ICU , ia baru mendapat telpon mendapat
kabar kondisi Bu Mayuko memburuk. Dilihatnya ketiga sahabatnya disana
Rei, Sayaka dan Taiko juga Pak Genzo menunggu di depan Ruang UGD dengan
wajah pucat ,Maya segera mendekat dan bertanya pelan "Bagaimana Bu
Mayuko" semua menggeleng dan menjawab dokter masih memeriksanya. Semua
nampak ketakutan dan dokter memang telah memperingatkan kalau Bu Mayuko
mendapat serangan jantung sekali lagi, hal itu membahayakan jiwanya.
Maya menatap pintu ICU dengan hati resah dan tanpa disadarinya Maya
menangis.
Terdengar suara langkah kaki yang dikenali Maya, ia langsung menoleh
dan melihat Masumi yang datang, Maya langsung berhamburan memeluk
Masumi dan menangis di dada Masumi. Masumi balas memeluk Maya dan
membisikkan sesuatu untuk menenangkan Maya, sedangkan keempat orang
lainnya hanya tersenyum melihat Pak Masumi yang biasanya dingin kini
dengan lembut menenangkan Maya, seandainya dalam keadaan lain mereka
pasti menggoda Maya habis habisan tapi saat ini mereka tak mampu,
apalagi melihat Maya yang menangis mengkhwatirkan kondisi Bu Mayuko.
Dokter yang memeriksa Bu Mayuko keluar melihat wajahnya yang serius,
semuanya bersiap menghadapi yang terburuk "kondisi jantungnya
membahyakan jiwa pasien, hanya ada satu cara menyelamatkan pasien yaitu
dengan donor jantung, tapi kami masih berusaha, dengan peralatan yang
ada mampu
menstabilkan pasien "jelas dokter. Maya yang sempat berhenti menangis
mulai mengeluarkan air mata lagi begitu juga dengan yang lainnya apa
yang mereka takutkan benar benar terjadi.
Keesokan paginya kondisi bu Mayuko belum terjadi perubahan, Maya, Rei,
Sayaka, Taiko dan Pak Genzo masih berada di ICU, bahkan semalam Masumi
tetap di sana, baru tadi pagi ketika Mizuki menelpon Masumi kembali ke
kantor. Dokter berjalan cepat menuju Ruang ICU dan berbicara dengan Pak
Genzo dengan tersenyum dokter tersebut menjelaskan "ada jantung yang
cocok dengan pasien, jika anda setuju operasi dapat dilaksanakan segera
"Maya yang mendengar tersebut langsung menjawab, "tentu saja bersedia,
kapan dilaksanakan operasinya dokter?" "segera setelah jantungnya tiba,
untung kondisi pasien stabil hingga bisa dioperasi" lalu dokter itu
menyerahkan sesuatu untuk diisi keluarga dan memgurus administrasi.
"Aduh" kata Maya tak lama setelah dokter pergi, mereka menuju loket
untuk mengurus administrasi "aku tidak membawa buku rekening " kata Maya
sambil mengobrak abrik tas tangannya. " kalian disini saja, biar aku
pulang dan mengambilnya" , "Semalam ada yang membayar deposit* atas
nama Bu Mayuko" kata staff RS tersebut menjawab menghentikan langkah
Maya "Eh " kata Rei kemudian bertanya siapa yang membayar Pak?" tanyanya
kemudian "ehmm yang membayar Pak Masumi Hayami" katanya singkat melihat
layar monitor di depannya lalu tersenyum "kekurangannya bisa dibayar
saat pasien pulang" katanya kemudian "terima kasih" kata Rei sambil
menerima beberapa dokument dan tanda terima. Mereka hanya menahan nafas
ketika ketika melihat jumlah uang yang didepositkan Pak Masumi.
***************
"Ada perubahan rencana" kata wanita tersebut kepada ketiga lelaki di
depannya "aku tak ingin kalian menculik seseorang hanya mencuri
sesuatu." Ketiga orang tersebut mengerutkan dahi dan bertanya "Apa yang
harus kami curi, nona ?" Wanita yang dipanggil nona tersenyum dan
menjawab, "jantung."
( Bersambung )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar